Simpang Susun Semanggi

Lagi-lagi aku dibuat terpukau oleh seorang Basuki Tjahja Purnama.

Seperti yang diketahui semua orang pak Ahok sekarang mendekam di Mako Brimob Depok. Aku sedih jika harus mengingatnya. 

Tapi kabar gembira untuk warga DKI, SSS alias Simpang Susun Semanggi akhirnya selesai juga pembangunannya dan saat ini sedang tahap uji coba. 

Kita doakan ya semoga semuanya lancar. Amin.. 

Timeline facebook ku dipenuhi dengan pemberitaan mengenai SSS. 

kenapa sih media terlalu lebay? pembangunan jalan saja dihebohin. dasar ndeso. Haha. Aku sering membaca komentar bodoh netizen akhir-akhir ini. Kebiasaan ya? mengomentari hal yang mereka katakan tidak penting. Maklumi saja mungkin kurang mengkonsumsi equil dan sari roti. 

Dan ya, aku pun research di google nih mengenai perjalanan pembangungan SSS. Dan ternyata, ide pembangunan jembatan Semanggi ini keluar bersamaan dengan ide pembangunan stadion Gelora Bung Karno. 

Jadi dulu dalam rangka menyambut Asian Games 1962 pak Ir. Soekarno ingin membuat stadion megah yang sekarang kita kenal dengan stadion GBK. Gagasan itu disusul dengan gagasan pak Ir. Sutami untuk membangun jembatan Semanggi karna khawatir pas Asian Games akan terjadi kepadatan lalu lintas. 

Jadi ide itu sebenarnya udah lama guys tapi baru terealisasikan di era pak Ahok. 

Nah aku akhirnya bertanya-tanya, selain fakta bahwa ide SSS adalah ide lama, apa lagi sih keistimewaan SSS sampai-sampai media gembar gembor memberitakannya? 

Nah begini ceritanya.

Jadi ada nih perusahaan PT Mitra Panca Persada yang merupakan anak perusahaan asal Jepang bernama Mori Building Company. Jadi Mori ini bermaksud ingin menambah tinggi bangunan mereka yang awalnya berjumlah 7 lantai menjadi 14 lantai. Tapi harus ada ijinnya guys. Berdasarkan UU nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Menurut UU ini pengembang hanya bisa membangun dengan luas dan tinggi bangunan sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam izin yang diberikan. Nah, jadi jika ada kelebihan luas bangunan, maka pengembang yang bersangkutan wajib membayar kompensasi terhadap pemerintah. 

Nah,  dari sinilah dana pembangunan SSS berasal. Jadi, dana proyek pembangunan SSS bukan berasal dari pakak yang anda bayar atau APBD tapi berasal dari Corporate Social Responsibility. Gitu guys.

Nah, karna duitnya udah ada akhirnya pembangunan pun dimulai dengan anggaran sekitar 200 Milyar lebih. Sebetulnya itu tidak terlalu banyak guys karna kata pak Djarot, dana awalnya itu sebenarnya 500 Milyar tapi begitu tau 500 M pak Ahok langsung marah-marah dan minta untuk dihitung ulang. Dan hasil dari marah-marah itu, budgetnya langsung turun kurang dari 300 M wkwk. Jadi guys, marah-marahnya pak Ahok itu berguna kok hehe. 

Setelah pembangunan oleh PT Wijaya Karya Tbk, SSS pun akhirnya selesai juga dengan sisa anggaran lebih dari 200 M. Dan rencananya uang tersebut akan dipakai buat makan nasi goreng bersama. Eh. Kidding guys. Garing ya? Iya, sorry aku emang gak bisa ngelawak. 

Kembali ke laptop ya.

Jadi proses pembangunan SSS ini tidak mudah loh. Karna kenyataannya, apapun tindakan Ahok pasti terus-terusan dikritik oleh banyak orang. Sekalipun tujuan Ahok baik.

Sebetulnya kekhawatiran DPRD DKI wajar saja. Seperti yang disampaikan Anggota DPRD DKI Jakarta fraksi PKS, Dite Abimanyu dalam sidang paripurna tahun lalu dengan agenda tanggapan atas laporan pertanggungjawaban Gubernur DKI Jakarta pada sidang sebelumnya Jumat 29 April 2016.

Pak dite ini menyampaikan kesimpulan pandangan tiap fraksi bahwa pembangunan SSS untuk mengurai kemacetan justru akan menambah parah kemacetan. 

Hmm..  Jadi ceritanya pak Dite dkk ini sudah bisa memprediksikan sesuatu yang bahkan saat itu belum dibangun. 

Sebenarnya mau pak Dite ini, dana KLB itu bagusnya dialokasikan untuk pembangunan yang lebih efektif seperti perbaikan dan peningkatan transportasi publik, penyiapan infrastruktur untuk penerapan sistem berbayar elektronik, percepatan pembangunan kereta api ringan, sarana parkir wkwk dan perbaikan sarana pejalan kaki serta jalur sepeda.

Ohh.. 

Yang mengkritik proyek ini juga bukan hanya bapak-bapak DPRD kita yang terhormat tapi masyarakat juga banyak kok.

Untuk menanggapi kekhawatiran pak Dite dkk yang seperti yang aku katakan tadi, itu adalah hal yang wajar. Ceritanya mereka kurang berkenan sama SSS karna mereka khawatir biaya pemeliharaan SSS kedepannya dari mana. Karna untuk masalah-masalah SSS kedepannya bukan lagi menjadi tanggungan dari pihak yang memberi kompensasi.

Tapo gini loh pak, ya namanya juga berusaha supaya mengurangi kemacetan. Pembangunannya gak membebani APBD, ya kita juga harus berusahalah untum biaya pemeliharaannya. Uang pajak, BUMN dan sebagainya pasti cukuplah. Buktinya proyek Hambalang dan E-KTP dananya ada tuh..  Tapi malah disimpan di dompet pribadi. Jadi sebetulnya semua biaa diatur asalkan jujur uangnya gak lari kesana kemari. Selama ini pemerintah sering membuat proyek dengan anggaran yang gila-gilaan tapi hasilnya malah jadi candi. Hasilnya banyak masyarakat yang E-KTPnya belum selesai juga hanya karna masalah sepele.

Banyak yang mengkritik SSS tidak akan berhasil mengurai kemacetan. Ya, lihat saja nanti ke depannya seperti apa. Yang jelas pak Ahok dan pak Djarot sudah berusaha menghasilkan yang terbaik dalam kurun waktu 2 tahunan.

Hanya 2 tahun tapi sudah banyak yang berhasil dicapai pak Ahok-Djarot. Apa kabar dengan yang menjabat sampai 2 periode tapi malah menghasilkan candi dan atm berjalan para pejabat? 

Yah sudahlah. Semoga orang-orang itu diberi hidayah. Dan mengenai SSS,  maaf untuk reaksi ku dan pemberitaan media yang menurut beberapa orang terkesan lebay. 

Bukannya lebih baik kita mendukung pemerintahan yang bersih? Sebetulnya tidak ada yang istimewa dari pak Ahok. Dia hanya mengerjakan tugas yang seharusnya dia lakukan sebagai pejabat dan politikus. Tapi alasan dia terlihat menonjol dan berbeda karna terlalu banyak pejabat yang menyalahgunakan jabatan dan kekuasaan. Dan ketika Ahok melawan arus sendirian di tengah banyaknya pejabat yang korupsi, ya dia terlihat berbeda dan lain sendiri.

Memang begitulah kenyataan dunia yang kita pijak ini guys. Orang baik dibuat terlihat buruk, sementara karna menang kuantitas, orang-orang tidak baik ini akan mendominasi dan mengontrol semuanya. Itulah makanya kebenaran jadi terbalik. Tapi mau seberapa banyak pun jumlah mereka, tetap jadi generasi muda yang jujur dan tidak takut melawan arus. Seperti pak Ahok ❤

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s