Coba jalani saja dulu. Siapa tau cocok

Ya, aku kerap mendengar kata-kata itu akhir-akhir ini. Kurasa orang-orang disekitarku masih tidak menyerah mengenai hal itu. Aku masih tidak habis pikir, apakah aku membuat mereka resah dengan keadaanku? Apakah mereka tidak tau betapa berbahayanya kata-kata itu? Aku pernah menjadi brengsek karna hal itu. Apalagi dengan keadaan perasaan seperti ini, kurasa aku akan jadi terbrengsek diantara para brengsek.

Lain cerita dengan sahabatku. Dia bahkan sudah tidak memercayaiku lagi. Dia mengatakan bahwa dia tidak pernah melihat aku serius dalam menjalani suatu hubungan. Tapi dia tau persis mengapa aku seperti ini. Dia tau, aku pernah mencintai seseorang dan berakhir dengan rasa sakit yang begitu hebat. Rasa sakit yang luar biasanya membuatku jera dan kehilangan hasrat untuk memulai.

Aku membenci diriku saat itu. Mengapa aku begitu bodoh, naif dan lemah? Saat itu aku masih begitu muda. Sama halnya dengan orang itu. Dan dengan emosi yang tidak stabil aku menyerahkan hatiku begitu saja pada orang yang sama tak stabilnya denganku. Dan aku berakhir dengan cara yang tragis. Aku tau persis seperti apa diriku ketika mencintai seseorang. Aku akan mencintai orang itu lebih dari diriku sendiri. Dan itu membuatku menjadi seorang yang pengecut. Aku takut akan rasa sakit. Aku tidak ingin merasakan hal yang sama lagi.

Sekarang aku merasa sangat tidak ingin berhubungan dengan siapapun. Aku tidak peduli jika sahabatku mengatakan aku tidak normal. Entah sudah berapa orang yang berusaha mendekatiku tapi tidak ku gubris. Bahkan yang sampai saat ini tak henti-hentinya menggangguku dan berusaha berbuat baik yang justru membuatku kesal karna dia membuatku merasa terbebani. Ada juga yang mendekatiku dengan cara yang salah. Kamu sudah makan? Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu tinggal dimana? Ini sudah tahun berapa? Hal-hal norak yang sudah ada sejak era Jane Austen. Daripada menanyakan apakah aku sudah makan atau belum, mengapa mereka tidak langsung mengirimkan makanan saja? Maksudku, aku sudah muak dengan pertanyaan-pertanyaan itu dan mereka sendiri yang membuat diri mereka berakhir dengan double centang berwarna biru. Aku bukannya bermaksud jahat, tapi tolonglah belajar dari Nicholas Sparks. Dia bahkan sudah berkeluarga tapi dia sangat peka terhadap berbagai hal.

Seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya hal yang kulihat dengan mata ini, kurasa aku semakin dewasa dalam berbagai hal.

Aku memutuskan untuk tidak memulai hubungan lagi dengan siapapun. Aku berusaha untuk menyibukkan diriku. Kerja, kuliah, tugas, kegiatan dengan anak-anak gereja, ibadah dan bakti sosial. Sampai-sampai aku sulit untuk menemukan waktu luang.

Harapanku, aku ingin menikah diusia 27 tahun. Kurasa usia 27 tahun adalah usia yang matang. Aku ingin diusia itu, aku digenggam oleh tangan yang tepat. Jadi, jika kau mengatakan padaku untuk “coba jalani saja dulu. Siapa tau cocok”, haha kurasa kau mengalamatkan kata-kata tersebut pada orang yang salah. Karna aku memiliki prinsip yang sangat kuat. Aku tidak akan pacaran dengan sembarangan orang. Aku tidak akan pacaran dengan orang yang hanya mengandalkan wajah dan tubuhnya tapi tidak memiliki kualitas apapun ketika diajak mengobrol.

Pacaran bukanlah ajang coba-coba. Ketika kau menginginkan aku jadi pacarmu, apakah kamu siap untuk menikahiku 2 tahun lagi? Kau menganggapku gila? Kakak rohaniku mengatakan, lama pacaran yang ideal itu 2 tahun. Mengapa 2 tahun? Nah, dia menanyakan, apakah kamu sanggup menjaga kekudusanmu selama pacaran? Bukannya semakin lama pacaran, akan semakin banyak hal yang akan kamu berikan kepada pacarmu? Apakah kamu bisa menahan diri? Aku tidak ingin munafik, bahkan aku sendiri tidak bisa menjamin itu. Ada banyak orang diluar sana yang hubungannya berakhir sekalipun dia menyerahkan segalanya. Aku bahkan tidak bisa membayangkan seperti apa penyesalan mereka.

Jadi, jika kau berpikir untuk menjadikanku sebagai pacarmu, pastikan kau juga menginginkan masa depan bersamaku.

Dan saat ini, aku tidak ingin terburu-buru. Tuhan akan membawa orang yang terbaik untukku. Karna, terkadang disaat aku merasa lelah dan jenuh, aku berharap bisa memeluk seseorang, aku berharap bisa memegang tangan seseorang, kuharap aku bisa bersama seseorang yang mau mendengar ceritaku dan menguatkanku. Dan kami saling menguatkan.

Aku berkomitmen, lebih baik aku single seumur hidup daripada bertemu orang yang salah.

Terima kasih sudah menganggapku gila. Walaupun sebenarnya harapanku sederhana, tapi karna sudah terlalu rusaknya pergaulan orang sekarang, jadi mereka menganggap hal yang sesungguhnya sederhana sebagai hal yang hanya bisa ditemukan di drama Korea. Tapi percayalah, aku 100% sadar dan pria baik bukan hanya ada di drama Korea saja.

Kuharap wanita-wanita diluar sana bisa menjaga dirinya ❤

Kloveyoubye

Iklan

I Carry Your Heart With Me

i carry your heart with me(i carry it in
my heart)i am never without it(anywhere

i go you go,my dear; and whatever is done

by only me is your doing,my darling)

i fear

no fate(for you are my fate,my sweet)i want

no world(for beautiful you are my world,my true)

and it’s you are whatever a moon has always meant

and whatever a sun will always sing is you
here is the deepest secret nobody knows

(here is the root of the root and the bud of the bud

and the sky of the sky of a tree called life;which grows

higher than the soul can hope or mind can hide)

and this is the wonder that’s keeping the stars apart
i carry your heart(i carry it in my heart)
-E. E. Cummings

One Art

The art of losing isn’t hard to master;

so many things seem filled with the intent

to be lost that their loss is no disaster.
Lose something every day. Accept the fluster

of lost door keys, the hour badly spent.

The art of losing isn’t hard to master.
Then practice losing farther, losing faster:

places, and names, and where it was you meant to travel.

None of these will bring disaster.
I lost my mother’s watch. And look! my last, or

next-to-last, of three loved houses went.

The art of losing isn’t hard to master.
I lost two cities, lovely ones. And, vaster,

some realms I owned, two rivers, a continent.

I miss them, but it wasn’t a disaster.
–Even losing you (the joking voice, a gesture

I love) I shan’t have lied. It’s evident

the art of losing’s not too hard to master

though it may look like (Write it!) like disaster.

-Elizabeth Bishop