Hari ini cukup melelahkan dan menyenangkan. Training di Hasyim hari pertama benar-benar diluar dugaan aku. Suasananya hidup banget. Belajar tapi tidak menengangkan berhubung trainernya baik-baik.

Tapi sebenarnya tujuan aku blogging hari ini bukan mengenai hal itu. Tapi sebenarnya soal salah satu teman kantor yang dilihat dari gerak-geriknya selama ini, dia terlihat sedang berusaha mendekatiku.

As you guys knw that I’m single and happy and proud #lmao. Dan aku to the point saja. Aku gak mau sama dia dan sama sekali tidak ada pikiran untuk memberi kesempatan buat dia.

Ini sama sekali bukan delusi. Dia memang belum mengatakan apapun, tapi setidaknya aku sudah pernah berpacaran sebelumnya dan pastinya aku tau gelagat orang yang ingin mendekatiku.

Apalagi dia, sebut saja Papa Zola. Papa Zola ini adalah tipe orang yang mudah ditebak. Aku gak tau apa dia sengaja atau tidak, yang jelas dia seperti buku terbuka.

Aku ingat aku masih beberapa hari masuk. Aku ingat hari Jumat dia gak masuk kantor karna lagi ngurus SIM. Nah, pas pulang kantor dia hubungi aku lewat Whatsapp. Kira-kira percakapannya seperti ini.

Papa Zola : Pulang kantor jajan yuk

Aku : Jajan? apaan? 

Papa Zola : Jajan.. Ada yang mau gue tanya. Penting

Aku : Apa. Bilang aja disini.

Papa Zola : Kalo bisa diomongin lewat WA udh dari tadi gue tanya

Aku : Gak bisa. Aku gak boleh pulang telat. 

Setelah dipaksa, aku akhirnya mengiyakan kemauan Papa Zola dengan syarat batas jam 8. Sebenarnya dari awal aku udah feeling nih orang kayaknya mau modus. Tapi ah sudahlah. Siapa tau feeling aku salah.

Akhirnya kami ketemuan, dia bawa aku ke warung sate taichan. Nah, sesampainya disana aku langsung nanya “kamu mau nanya apa? buruan”

…… Dan apa yang dia bilang?

tadi ada yang nanyain gue gak?

Itu doang?

Ya. Dari situ aku tau kalo feeling aku benar. Disitu dia nanya2 banyak hal tentang aku.

Nah, bukti kedua alasan kenapa aku yakin orang ini ngejar-ngejar aku adalah sewaktu di Tugu Proklamasi. 

Waktu itu anak-anak kantor mau ke tugu proklamasi dalam rangka penyalaan lilin buat Ahok. Dan waktu itu juga aku rencana mau pergi tapi bareng teman aku, kak Helen. Jadi, si Papa Zola ini diajak sama anak-anak kantor tapi dia keliaran ragu-ragu. Tapi akhirnya dia setuju. Jam setengah 6 mereka langsung keluar kantor. Sementara aku masih menunggu kabar dari kak Helen. Selang 30 menit kemudian aku keluar kantor dan baru aja mau order uber, WA dari Papa Zola masuk.

“Lu jadi ke tugu Proklamasi?”

“Iya, kenapa? ”

“Bareng yuk”

“Lah bukannya kamu udh duluan bareng Kak ***?”

“Gak. Tadi mereka duluan”

Dan demi menghemat ongkos akhirnya aku bareng Papa Zola. Sesampai di TP, Papa Zola justru duduk sama aku bukan bareng teman-teman dia. Dia juga yang ngantar sampai st. Juanda dan akhirnya kak Helen naik Grab.

Pokoknya, banyak hal yang membuat aku yakin kalo orang ini lagi berusaha deketin aku.

Dia memang baik. Tapi, aku gak ada perasaan apapun. Aku khawatir suatu saat, jika dia minta aku buat balas perasaan dia dan aku nolak, suasananya jadi gak akan sama lagi. Kita yang awalnya biasa-biasa aja duduk makan bareng, pasti gak akan nyaman lagi.

Jadi, aku putuskan buat jaga jarak. Aku menolak semua ajakan dia. Karna jika terima ajakan dia, dia akan berpikir kalo aku ngasih harapan kedia. Mungkin aku sekarang terlihat jahat tapi suatu hari,  saat dia udah gak ada perasaan lagi sama aku, dia akan berterima kasih. Karna cowok seperti Papa Zola ini gampang dimanfaatkan. Dan untung aku bukan cewk seperti itu.

Aku gak mau dia berusaha mengejar sesuatu yang udah pasti gak akan dia dapatkan. Karna percuma. Kenyataannya aku sama sekali gak tertarik. Aku lebih suka hubungan aku dan Papa Zola sebatas teman saja. Gak lebih.

Karna percuma ngejar-ngejar org yang terlalu menikmati kejombloannya.

Aku bukannya gak mau pacaran. Hanya saja, sekarang belum waktunya. Kepalaku penuh dengan pekerjaan, kuliah, keluarga, gereja dan life goals. Jadi sama sekali tidak ada empty space untuk cinta pada lawan jenis. Dan aku gak punya waktu untuk hal itu. 

Simpang Susun Semanggi

Lagi-lagi aku dibuat terpukau oleh seorang Basuki Tjahja Purnama.

Seperti yang diketahui semua orang pak Ahok sekarang mendekam di Mako Brimob Depok. Aku sedih jika harus mengingatnya. 

Tapi kabar gembira untuk warga DKI, SSS alias Simpang Susun Semanggi akhirnya selesai juga pembangunannya dan saat ini sedang tahap uji coba. 

Kita doakan ya semoga semuanya lancar. Amin.. 

Timeline facebook ku dipenuhi dengan pemberitaan mengenai SSS. 

kenapa sih media terlalu lebay? pembangunan jalan saja dihebohin. dasar ndeso. Haha. Aku sering membaca komentar bodoh netizen akhir-akhir ini. Kebiasaan ya? mengomentari hal yang mereka katakan tidak penting. Maklumi saja mungkin kurang mengkonsumsi equil dan sari roti. 

Dan ya, aku pun research di google nih mengenai perjalanan pembangungan SSS. Dan ternyata, ide pembangunan jembatan Semanggi ini keluar bersamaan dengan ide pembangunan stadion Gelora Bung Karno. 

Jadi dulu dalam rangka menyambut Asian Games 1962 pak Ir. Soekarno ingin membuat stadion megah yang sekarang kita kenal dengan stadion GBK. Gagasan itu disusul dengan gagasan pak Ir. Sutami untuk membangun jembatan Semanggi karna khawatir pas Asian Games akan terjadi kepadatan lalu lintas. 

Jadi ide itu sebenarnya udah lama guys tapi baru terealisasikan di era pak Ahok. 

Nah aku akhirnya bertanya-tanya, selain fakta bahwa ide SSS adalah ide lama, apa lagi sih keistimewaan SSS sampai-sampai media gembar gembor memberitakannya? 

Nah begini ceritanya.

Jadi ada nih perusahaan PT Mitra Panca Persada yang merupakan anak perusahaan asal Jepang bernama Mori Building Company. Jadi Mori ini bermaksud ingin menambah tinggi bangunan mereka yang awalnya berjumlah 7 lantai menjadi 14 lantai. Tapi harus ada ijinnya guys. Berdasarkan UU nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Menurut UU ini pengembang hanya bisa membangun dengan luas dan tinggi bangunan sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam izin yang diberikan. Nah, jadi jika ada kelebihan luas bangunan, maka pengembang yang bersangkutan wajib membayar kompensasi terhadap pemerintah. 

Nah,  dari sinilah dana pembangunan SSS berasal. Jadi, dana proyek pembangunan SSS bukan berasal dari pakak yang anda bayar atau APBD tapi berasal dari Corporate Social Responsibility. Gitu guys.

Nah, karna duitnya udah ada akhirnya pembangunan pun dimulai dengan anggaran sekitar 200 Milyar lebih. Sebetulnya itu tidak terlalu banyak guys karna kata pak Djarot, dana awalnya itu sebenarnya 500 Milyar tapi begitu tau 500 M pak Ahok langsung marah-marah dan minta untuk dihitung ulang. Dan hasil dari marah-marah itu, budgetnya langsung turun kurang dari 300 M wkwk. Jadi guys, marah-marahnya pak Ahok itu berguna kok hehe. 

Setelah pembangunan oleh PT Wijaya Karya Tbk, SSS pun akhirnya selesai juga dengan sisa anggaran lebih dari 200 M. Dan rencananya uang tersebut akan dipakai buat makan nasi goreng bersama. Eh. Kidding guys. Garing ya? Iya, sorry aku emang gak bisa ngelawak. 

Kembali ke laptop ya.

Jadi proses pembangunan SSS ini tidak mudah loh. Karna kenyataannya, apapun tindakan Ahok pasti terus-terusan dikritik oleh banyak orang. Sekalipun tujuan Ahok baik.

Sebetulnya kekhawatiran DPRD DKI wajar saja. Seperti yang disampaikan Anggota DPRD DKI Jakarta fraksi PKS, Dite Abimanyu dalam sidang paripurna tahun lalu dengan agenda tanggapan atas laporan pertanggungjawaban Gubernur DKI Jakarta pada sidang sebelumnya Jumat 29 April 2016.

Pak dite ini menyampaikan kesimpulan pandangan tiap fraksi bahwa pembangunan SSS untuk mengurai kemacetan justru akan menambah parah kemacetan. 

Hmm..  Jadi ceritanya pak Dite dkk ini sudah bisa memprediksikan sesuatu yang bahkan saat itu belum dibangun. 

Sebenarnya mau pak Dite ini, dana KLB itu bagusnya dialokasikan untuk pembangunan yang lebih efektif seperti perbaikan dan peningkatan transportasi publik, penyiapan infrastruktur untuk penerapan sistem berbayar elektronik, percepatan pembangunan kereta api ringan, sarana parkir wkwk dan perbaikan sarana pejalan kaki serta jalur sepeda.

Ohh.. 

Yang mengkritik proyek ini juga bukan hanya bapak-bapak DPRD kita yang terhormat tapi masyarakat juga banyak kok.

Untuk menanggapi kekhawatiran pak Dite dkk yang seperti yang aku katakan tadi, itu adalah hal yang wajar. Ceritanya mereka kurang berkenan sama SSS karna mereka khawatir biaya pemeliharaan SSS kedepannya dari mana. Karna untuk masalah-masalah SSS kedepannya bukan lagi menjadi tanggungan dari pihak yang memberi kompensasi.

Tapo gini loh pak, ya namanya juga berusaha supaya mengurangi kemacetan. Pembangunannya gak membebani APBD, ya kita juga harus berusahalah untum biaya pemeliharaannya. Uang pajak, BUMN dan sebagainya pasti cukuplah. Buktinya proyek Hambalang dan E-KTP dananya ada tuh..  Tapi malah disimpan di dompet pribadi. Jadi sebetulnya semua biaa diatur asalkan jujur uangnya gak lari kesana kemari. Selama ini pemerintah sering membuat proyek dengan anggaran yang gila-gilaan tapi hasilnya malah jadi candi. Hasilnya banyak masyarakat yang E-KTPnya belum selesai juga hanya karna masalah sepele.

Banyak yang mengkritik SSS tidak akan berhasil mengurai kemacetan. Ya, lihat saja nanti ke depannya seperti apa. Yang jelas pak Ahok dan pak Djarot sudah berusaha menghasilkan yang terbaik dalam kurun waktu 2 tahunan.

Hanya 2 tahun tapi sudah banyak yang berhasil dicapai pak Ahok-Djarot. Apa kabar dengan yang menjabat sampai 2 periode tapi malah menghasilkan candi dan atm berjalan para pejabat? 

Yah sudahlah. Semoga orang-orang itu diberi hidayah. Dan mengenai SSS,  maaf untuk reaksi ku dan pemberitaan media yang menurut beberapa orang terkesan lebay. 

Bukannya lebih baik kita mendukung pemerintahan yang bersih? Sebetulnya tidak ada yang istimewa dari pak Ahok. Dia hanya mengerjakan tugas yang seharusnya dia lakukan sebagai pejabat dan politikus. Tapi alasan dia terlihat menonjol dan berbeda karna terlalu banyak pejabat yang menyalahgunakan jabatan dan kekuasaan. Dan ketika Ahok melawan arus sendirian di tengah banyaknya pejabat yang korupsi, ya dia terlihat berbeda dan lain sendiri.

Memang begitulah kenyataan dunia yang kita pijak ini guys. Orang baik dibuat terlihat buruk, sementara karna menang kuantitas, orang-orang tidak baik ini akan mendominasi dan mengontrol semuanya. Itulah makanya kebenaran jadi terbalik. Tapi mau seberapa banyak pun jumlah mereka, tetap jadi generasi muda yang jujur dan tidak takut melawan arus. Seperti pak Ahok ❤

Less stress 

Menjadi stress adalah hal yang tidak bisa dihindari  dari kehidupan setiap orang. Apapun alasannya, kau bisa depresi kapan saja. Alasan satu-satunya pemicu stress adalah masalah. Masalah hidup setiap orang sangatlah beragam. Kau bahkan tidak akan bisa membayangkan masalah seperti apa yang sudah ku alami. Apakah aku stress? Ya, aku stress. Kerap kali karna rasanya sudah tidak sanggup lagi, aku kerap ingin mengakhiri hidupku.  Walaupun kenyataannya aku tidak memiliki keberanian untuk itu. Aku terlalu takut akan rasa sakit. Aku berharap ada cara bunuh diri yang tidak menyakitkan.

Walaupun tidak pernah terjadi, keinginan itu terlalu sering bersarang dibenakku. Apalagi disaat-saat yang menurutku sangat berat.

Stress ternyata bukanlah hal yang sepele. Ada seorang ayah yang tega membunuh anaknya karna stress anaknya terlalu sering menangis. Bahkan siswa SMP yang gantung diri akibat stress dengan tekanan dari orang tuanya. 

Stress mengambil bagian terdalam dari dirimu. Ketika kamu yang tidak siap untuk segala masalah, dan masalah itu tiba-tiba menghantam bagaikan gelombang tsunami disiang yang cerah, kau akan terguncang. Ketidak-siapan diri akan menjadi celah sempurna. Masalah itu akan menggerogoti pikiran dan perasaan.

Dampaknya sangat luar biasa. Perubahan perilaku yang membuatmu menjadi sakit-sakitan. Dan berujung pada tindakan yang tidak diinginkan. Aku pernah mendengar ada yang mengatakan, stress adalah sumber dari segala penyakit. Stress membuatmu tidak memiliki hasrat untuk melakukan apapun. Emosi mudah meledak, murung, sedih dan itu sangat mempengaruhi pola hidup. Yang pastinya berakhir pada gangguan kesehatan. 

Tapi, seiring waktu berjalan, banyak hal yang kusadari. Yang membuat diri ini stress bukanlah masalah, melainkan diri sendiri. Masalah adalah pemicu tapi yang mengendalikan semuanya adalah diri kita sendiri. Semua tergantung pada respon diri kita. Kekecewaan terjadi karna dari awal diri kitalah yang terlalu menaruh harapan terlalu tinggi. Mental korban yang selalu merasa diri selalu diintimidasi. Dan menganggap diri kita merupakan pusat dari alam semesta (kuharap kau mengerti maksudku) tanpa memikirkan dari sudut yang lainnya. Pola pikir, cara pandang, ketidakmampuan dalam mengendalikan suasana hati dan kurangnya pemahaman situasi yang sangat membantu masalah untuk membuat diri menjadi stress.

Saat terberatku adalah ketika Ibuku mengecewakanku. Kurasa saat itu aku tidak sanggup lagi. Aku dipuncak kekecewaan, kemarahan, kesedihan dan keputusasaan. Dikecewakan oleh orang yang paling dipercaya adalah hal yang berat. Tapi seiring waktu berjalan aku berusaha untuk tidak memusatkan segalanya pada diriku. Aku berusaha memandang ke segala arah. Mencoba mencari alasan yang bisa membuatku mengerti dan mencoba untuk memaafkan.

Aku lebih banyak membaca buku, menonton berita, browsing, kerja, mendengar musik dan memperhatikan sekitar. Dan aku menyadari, bukan hanya aku saja makhluk di bumi ini. Dan pastinya bukan hanya aku yang mengalami banyak masalah.

Ketika dikeramaian, distasiun kereta, halte busway, aku memperhatikan setiap wajah. Setiap ekspresi. Semua terlihat biasa saja. Semua terlihat seperti tidak ada masalah. Mungkin aku juga terlihat sama. Orang tidak akan menduga masalah macam apa yang telah kulewati. Orang tidak akan menebak. Dan aku pun tidak akan tau masalah hidup mereka. Dan pasti. Pasti ada orang diluar sana yang nasibnya lebih tidak beruntung. Yang hidupnya tidak akan bisa kau bayangkan. Dan itulah yang menyelamatkanku. dari depresi itu. Aku tidak sendiri.

Aku berusaha mengendalikan emosiku. Untuk tidak terlalu sedih, senang dan berharap. Karna manusia mengecewakan dan Tuhan tidak. Dan aku sadar itu adalah proses pendewasaan. Semakin kau dewasa, kau akan bisa mengendalikan emosimu.

Tapi sekalipun seperti itu, adalah beberapa hal yang tidak bisa kau hindari seperti kehilangan orang yang kau cintai. Tidak akan pernah ada orang yang siap. Mau berapapun usiamu. Tidak ada satupun orang yang siap untuk ditinggalkan.

Lalu apa yang harus dilakukan? Menurutku, satu-satunya cara adalah percaya pada Tuhan. Percaya bahwa segala yang ada dikolong langit itu tidak pernah lepas dari kendaliNya. Dan Dia membuatmu ada disini untuk suatu tujuan. Orang mengatakan itu adalah omong kosong karna kita hanya mensugesti diri kita agar terhibur. Terserah apa kata orang. It depends on you, not them. 
With love, 

Chelsea

Problem is like your morning air

Sadness is like your scar marks

Disappointment is like shit in your nose

Emptiness is like your huge pimple on your cheek

Anger is like dandruff on your skin head

Getting Long In The Tooth

Ketika aku masih berusia belasan, aku sangat kagum pada orang yang berusia 20-an. Usia dimana kau telah dewasa dan tidak lagi dianggap bocah ingusan. Usia ketika suaramu lebih diperhatikan dan dihormati. Usia dimana kau bebas berpendapat tanpa disuruh diam. Rentang usia yang benar-benar ku dambakan.

Tahun ini adalah tahun transisi itu. 19 ke 20. Dan apakah pemikiranku masih sama sepertu sebelumnya? Pada dasarnya masih sama tapi ada beberapa hal yang berubah. Lebih tepatnya pola pikir yang lebih berkembang.

20? Itu hanyalah angka. Hari semakin bertambah dan akhir-akhir ini aku kerap bermimpi tentang kematian yang lumayan membuat perasaanku resah. Tapi setiap hari kita semakin dekat dengan kematian.

20-an itu mengagumkan. Kau bergaul dengan orang-orang yang lebih tua darimu. Dengan cara berpikir mereka yang beragam. Dan aku mulai melupakan yang namanya usia adalah tolak ukur suatu kedewasaan. Kau semakin tua tapi bukan berarti kau dewasa secara spiritual.

 Aku menemui banyak orang dengan sikap yang sangat kekanak-kanakkan dan disitulah aku sadar hal itu. 

Sesungguhnya bukan usia yang membuatmu dewasa tapi waktu.

Aku merasa aku cukup dewasa saat ini. Tapi mungkin 5 tahun akan datang jika Tuhan masih mengizinkan aku tetap hidup, mungkin aku akan melihat ke belakanv dengan cara yang berbeda.

Semuanya tentang waktu. Waktu yang menentukan.

Aku berusaha untuk menikmati hari-hari perjuanganku. Berusaha untuk tidak menyia-nyiakannya. Dan semakin tua akan menjadi kenyataan yang baik.

I Carry Your Heart With Me

i carry your heart with me(i carry it in
my heart)i am never without it(anywhere

i go you go,my dear; and whatever is done

by only me is your doing,my darling)

i fear

no fate(for you are my fate,my sweet)i want

no world(for beautiful you are my world,my true)

and it’s you are whatever a moon has always meant

and whatever a sun will always sing is you
here is the deepest secret nobody knows

(here is the root of the root and the bud of the bud

and the sky of the sky of a tree called life;which grows

higher than the soul can hope or mind can hide)

and this is the wonder that’s keeping the stars apart
i carry your heart(i carry it in my heart)
-E. E. Cummings

One Art

The art of losing isn’t hard to master;

so many things seem filled with the intent

to be lost that their loss is no disaster.
Lose something every day. Accept the fluster

of lost door keys, the hour badly spent.

The art of losing isn’t hard to master.
Then practice losing farther, losing faster:

places, and names, and where it was you meant to travel.

None of these will bring disaster.
I lost my mother’s watch. And look! my last, or

next-to-last, of three loved houses went.

The art of losing isn’t hard to master.
I lost two cities, lovely ones. And, vaster,

some realms I owned, two rivers, a continent.

I miss them, but it wasn’t a disaster.
–Even losing you (the joking voice, a gesture

I love) I shan’t have lied. It’s evident

the art of losing’s not too hard to master

though it may look like (Write it!) like disaster.

-Elizabeth Bishop